Page 128
128. tiga angka yang menurutku
tidaklah luar biasa. Tapi bagi seseorang yang aku temui, yang setiap harinya
meminjam buku di toko buku milikku, itu seperti hal yang aneh. Aku ga
pernah tau? Mengapa dia menyukai angka itu. Dari angka nomor apartementnya
sampai angka motornya pun bernomor nyaris 128. Ketika aku Tanya? dia selalu
diam dan tidak pernah mau menjawab.
Jadi, namaku angel.
anak yang diwariskan memiliki toko sewa buku komik dan novel sederhana miliki
ayahku. Letaknya tidak jauh dari kampus yang lumayan terkenal. Ya merekalah,
orang-orang yang ditargetkan menjadi pelanggan setia toko buku ini. aku baru
saja 2 bulan membantu ayahku ketika lulus dari sekolah. Karena aku tidak suka
belajar jadi aku ingin berkerja membantu ayah disini. Ayah tiba-tiba harus
pindah ke kampung karena menjaga nenek kami yang mulai sakit diabetes. Ia
sangat mencintai ibunya, tapi toko harus berjalan karena itulah salah satu cara
kami membantu biaya nenek.
2 bulan disini , setiap pelangganku
selalu sama. Tapi yang paling sering kujumpai hanya seorang pria yang menurutku
tidak memiliki model muka pembaca buku. Wajahnya putih, bertindik anting
di telinga dan mulutnya. Pakaiannya gak rapi terkesan punk. Rambutnya sedikit
berwarna kuning ala boy band korea. Setiap datang, ia selalu memilih
untuk membayar uang baca di toko buku kami. Ya toko buku kami juga menyediakan
kafe isinya minuman ringan sambil membaca buku. Cukup membayar minuman dan
sedikit uang receh ia boleh membaca buku gratis selama 2 jam. Dibatasi! Karena
kalau terlalu lama akan merugikan pelanggan lain yang hendak membaca.
Seperti biasa orang itu datang pada
toko buku kami. Selalu tepat. Pukul 12. Lewat 8 menit. Unikkan, sambil
menyerahkan kartu membernya kepadaku dengan nomor pesanan dia 128.
Chandra –umur 21. Lalu iya
memberikan uang berserta minuman yang ia pilih. Kopi susu. Biasanya jam
siang seperti ini toko buku akan sepi karena mahasiswa dan pelanggan hanya akan
datang pada sore hari. Ia hanya seorang diri dengan beberapa pelanggan lain
yang memang khusus menghabiskan waktu untuk istrirahat kerja. Lantai toko
buku milikku ada dua, lantai satu khusus komik dan lantai dua khusus novel. Ia
selalu memilih lantai 2 dan mengambil tempat duduk di ruangan itu sambil minum
kopi. Aku menyerahkan kopi pesanannya ke meja sambil melihatnya membaca novel.
Lucunya hanya halaman 128 yang ia
baca. Karena iseng aku pun bertanya.
“ Kak, kalau aku perhatikan. Kok
setiap kesini bacanya Cuma satu halaman novel yang angkanya 128 sih. Ada yang
special ya dengan angka itu?”
“ gak special sih, Cuma emang aku
memang khusus membaca halaman ini saja?”
“ kayaknya uda dua minggu ini selalu
disini ya.. uda berapa banyak novel yang kakak baca disini?”
“ oh ya, jangan panggil aku kakak,
panggil aja Chandra..”
“ oo., maaf Chandra..”
“ kamu Angel kan.. “ tebaknya dan
aku tersenyum.
“ Angel boleh aku Tanya?” katanya
dan aku mengatakan “ silakan..”
“ berapa sih jumlah novel kamu
disini..?”
“ semuanya..? “ tanyaku balik.. “
iya semuanya..”
“ wah seinget aku bisa sampai
ribuan. .angka pastinya mungkin 3000an.. kenapa ya Chan?”
“ waduh banyak juga ya.. kalau gitu
aku harus baca semuanya..”
Aku tersenyum geli, merasa aneh
dengan penegasannya.
“ ngapain baca semua novel disini,
sampai setahun juga gak akan habis tau..”
“ ya itulah,. aku harus baca
semuanya.. bingung dijelasin.. mungkin nanti kapan-kapan aku jelaskan.. “
Seseorang muncul dalam toko buku,
sepertinya pelanggan dan aku harus melayani.
“ baiklah.. kalau begitu aku kerja
dulu , selamat menikmati minumannya..”
“ thks..”
2 jam, itu waktu yang ia lakukan
untuk membaca novel yang ia mulai dari rak paling atas dari setiap sudut lemari
buku. Mungkin ia hanya mampu membaca 100 buku saja untuk setiap harinya.
Sebagai pelanggan yang baik, ia selalu merapikan setiap hal yang ia baca.
Ketika usai, ia mengambil kartu membernya dan mengatakan sesuatu padaku.
“ angel, aku pergi dulu ya.. oh ya,
sekali lagi boleh aku minta tolong.?”
“ boleh..”
“ tolong ingatkan aku ya. Kalau aku
sudah baca seluruh rak bagian atas lemari 1. Jadi kalau aku datang, dikasih
tau.. maaf merepotkan.”
“ oh ya pasti..” kataku dan jumlah
lemari novel kami ada sekitar 10 lemari.
Dia pun pergi dengan melempar
senyum, berlalu dengan motornya. Menyimpan sejuta misteri padaku. Hal yang
membuatku merasa aneh. Aku tau, ia akan datang pada saat waktu yang
tepat. Mungkin besok atau lusa. Dan harus tepat pukul 12 lewat 8 menit
bila lewat, ia akan memilih untuk tidak membaca dan pergi berlalu dan itu sudah
kuperhatikan sejak 2 minggu lalu ia disini. Ia sudah telat 5 kali dan
membatalkan kunjungan hanya karena perbedaan waktu.
Keesokan harinya..
Ia muncul ditengah hujan. Mendung
dan petir yang meledek. Karena basah kuyup. Aku pun meminjamkan handuk untuk
membersihkan basah ditubuhnya. Ia melempar senyum dan mengucapkan terima kasih.
“ hari ini aku telat ya.. ?”
“ iya uda lewat 15 menit..”
“ ya sayang banget..”
keluhnya. Dan aku menjadi penasaran.
“ chan.. kenapa sih harus 12. Lewat
8 menit. Kan bukan masalah juga toh?”
“ buat aku masalah ngel.. masalah
janji.. baiklah supaya kamu tidak bosan dan mungkin bisa bantu aku.. aku cerita
saja ya..’
“ dengan senang hati.. tunggu aku
ambil kopi hangat.. gratis buat kamu..”
Setelah mengajaknya duduk di sofa
dekat meja kerjaku. Lalu meletakkan segelas kopi hangat. Lalu aku membiarkan ia
bercerita . misteri angka 128 yang membuatku begitu penasaran..
Alkisah.. katanya..
Sejak dahulu, Chandra menyimpan satu
perasaan kepada seseroang yang sudah ia kenal sejak kuliah. Orang yang
menurutnya adalah bidadari. Bidadari yang selalu membuatnya berharap kelak
menjadi bagian hidupnya. Bidadari yang juga terkadang melukai
perasaannya.
Namanya Agnes. Umurnya sama. Hanya
ia selalu menganggap Chandra sebagai sahabat. Sahabat dimana Chandra melihat
sendiri bagaimana Agnes memiliki kekasih yang selalu silih berganti dari waktu
ke waktu. Tapi yang ia bisa lakukan hanya satu.
Cinta diam-diam.
Ia menjadi pendengar yang baik.
Menjadi teman yang baik dan selalu menjadi terbaik untuk membahagiakan agnes.
Walau harus menderita karena perasaan yang ia simpan.
“ gue suka deh sama temen loe,
Chan..”
“ siapa?”
“ itu yang kemarin ketemu sama kita
di mal. Yang loe kenalin namanya Hendra.”
“ oo. Dia. “
“ dia masih single kan?”
“ iya.. sepertinya..” “ tolong dong
kenalin..”
“ hm…”
Agnes lalu merangkul pundak Chandra
sambil berkata..
“ plz.. janji deh gak mainin dia.”
“ bukan masalah mainini sih.. tapi
yang kemarin loe minta kenalin belum seminggu uda diputusinkan?”
“ oo.. itu mah Cuma bercanda kali..
dianya yang anggap serius.. loe gak percaya kalau gua orang baik-baik ya..?”
“ percaya kok.. yauda nanti gua coba
Tanya ya.”
“ makasih Chan…”
Selang beberapa minggu Agnes sudah
jadian dengan Hendra. Dan mungkin inilah yang sudah kesekian kali Chandra
melihat kelakuan orang yang ia sayangin. Tapi ia hanya bisa satu. Diam dan
menunggu Agnes kembali kepadanya. Melapor dan bagaimana mengisahkan kisah cinta
dia dengan pria-pria lain. Bahkan terkadang dengan air mata yang ia bawa..
kalau sudah begitu. Chandra hanya bisa menjadi pendengar yang baik.
Mengingatkan walau selalu berulang-ulang ia melakukan hal yang sama.
Kali ini menjadi sangat buruk. Agnes
benar-bener tak menyangka kalau Hendra mungkin memberikan pengalaman terburuk
baginya. Rasa sakit hati dimana ketika ia menyimpan cinta dan malah dipermainkan.
Seperti karma. Ia menangis disamping Chandra.
“ sudah gua bilang kan? Gua gak ikut
campur kalau sudah begini?”
“ loe sih yang kenalin gua ke dia.
Kalau tau dia begitu kan gua gak akan sakit kayak gini..”
“ ya. Ya.. gua selalu salah.. salah
dan hanya bisa merasa salah..”
“ kok loe ngomong gitu. Emang loe
salah. Kalau tau dia bejat? Kenapa kenalin..”
“ kan loe yang mau..”
Tanpa dosa. Tanpa bersalah dan tanpa
menyesal. Selalu Chandra yang disalahkan dalam setiap masalah yang Agnes
hadapi. Selang beberapa minggu, agnes telah kembali dengan wajah
bahagia. Disamping seorang pria yang menurut Chandra lebih buruk dari Hendra.
“ ngapain loe jadian sama dia, dia
itu kan penjahat kelamin?”
“ ah. Sok tau,. Loe iri ya lihat gua
bahagia sama dia..”
“ kagak, gua Cuma mau ingetin loe..
jangan sampai nanti loe jadi korban..”
Agnes menjadi emosi.
“ gua uda gede. Dan uda
berpangalaman pacaran. Gak perlu loe ajarin.. ada juga loe yang perlu belajar
dari gua bagaimaan punya pacar? Toh selama ini loe jomblo terus.. atau
jangan-jangan loe ini ?”
“ apaaan sih.. gua normal.. gua
peduli sama loe..”
“ peduli sebagai teman kan ? gak
lebih..?”
Chandra terdiam.
“ kalau pun lebih? Salah?”
“ salah lah.. loe kan buka
tipe gua dari ujung kaki sampai rambut.. kita temanan aja lah..” kata agnes
santai tanpa sadar menyakiti Chandra.
“ yauda gua pergi.. gua mau kerja..”
“ anterin gua dulu dong.. mau ketemu
dia neh..”
“ mau kemana..”
“ dugem coi.. dia uda
disana..anterin aja setelah itu loe pergi..”
Dengan terpaksa. Chandra pun pergi
mengantarkan agnes ke tempat dugem. Dimana sebenarnya ia merasa tidak rela
melihat Agnes ada ditempat seperti ini. sebelum pergi, agnes memperhatikan
Chandra.
“ Chan.. kayaknya loe akan terlihat
lebih menarik di mata gua, kalau loe pakai anting, bibir loe diantingin dan
rambut loe diwarnai kayak ala boyband korea deh..”
“ alah, mau diapain juga tetap jadi
teman loe kan?”
“ upss. Siapa tau naik pangkat jadi
someone guee..”
Chandra merasa seperti terpanah oleh
kata-kata terakhir Agnes.
“ loe beneran?”
“ gak ada yang tau apa yang terjadi
di dunia ini selain kita yang menentukan dan kita yang jalanin kan?”
Chandra tersenyum dan
membiarkan agnes pergi dengan senyum dan berlalu di tempat dugem. Ia pulang dan
mulai berpikir melakukan apa yang agnes katakan., mungkin inilah satu-satunya
kunci baginya untuk setidaknya mendapatkan kesempatan walau sedikit mustahil.
Menjadi kekasih Agnes.
Kini Chandra sudah seperti yang
Agnes katakan. Ia pergi menemui Agnes yang malah tertawa terbahak-bahak melihat
tingkah sahabatnya yang sudah seperti alah boyband.
“ loe salah makan obat ya? Kok jadi
berubah bentuk gini potongannya..”
“ bukannya loe suka yang kayak
gini?”
“ hah, kapan gua bilang..?”
Chandra terdiam,
“ yauda lupain aja.. jadi loe suruh
gua datang kesini mau ngapain?”
“ gua mau minta dianterin ke tempat
cowok gua lah.. yuk..”
Dengan wajah sedikit kesal, Chandra
pun pergi mengantar. Setelah mengantar ia pulang dengan wajah kesal
karena telah merombak dirinya sedemikian rupa tetap tidak dihargai sama sekali
oleh Agnes. Tiga hari ia menolak untuk menjawab dan menghilang dari Agnes,.
Walau sesungguhnya ia pergi ke bandung berlibur dan sengaja tidak membawa nomor
kontaknya. Sepulang dari bandung, ia diberitahu oleh ibunya.
“ agnes overdosis dirawat di rumah
sakit..”
Dengan panik ia menuju rumah sakit.
Mendekat kepada gadis yang ia cintai begitu lama terbujur lemas. Agnes bangun
dan menatapnya dengan lemas.
“ loe kemana aja? Kok ilang
berhari-hari..” kata agnes.
“ sorry nes., gua ke bandung, gak
bawa hendphone gua.. gimana loe? Kok bisa jadi kayak gini..”
“ gua gak tau chan. Tiba-tiba abis
dugem gua uda disini.. katanya overdosis.. “
“ yailah,. Kenapa bisa sampai gini
sih. Terus cowok loe mana?”
“ gak tau.. dia gak pernah nengok
gua.. rasanya uda selesai..” kata agnes menangis.
“ yauda gak usah dipikirin.. yang
penting. Loe sembuh dulu..” kata Chandra
“ maafin gua ya.. gua seharusnya
dengerin kata-kata loe..sekarang jadi kayak gini.. malu gua.. berulang-ulang
bikin loe jadi sibuk sendiri karena gua.”
Chandra merangkul tangan Agnes
sambil berkata
“ gak usah peduli apa kata isi hati
loe. Yang rasain bahagia kan gua dan loe aja. Selama gua bahagia ada disamping
loe. Mau disakitin kayak apapun gua terima kok..”
“ ih.. kok loe jadi gombal sih..”
“ hehehe. Abis kalau serius. Loe
tambah nangis. .santai aja. Cepet sembuh ya..”
Agnes mulai memperhatikan semua yang
ada tentang Chandra.
“ loe lebih cakep kalau kayak gini.”
“ alah boyband ya.. hahaha, malu
sih. Tapi sekarang cuek aja. Emang gua lebih cakep kayak gini, banyak
cewek-cewek yang liatin gua..”
Hati agnes tiba-tiba tak suka
mendengar tentanng kalimat itu.. tapi ia tidak pernah menyadari apa yang
terjadi di hatinya sampai hari berlalu dan berlalu ia bersama Chandra sampai ia
keluar dari rumah sakit.
Suatu ketika, di siang tak terduga.
Agnes mengajak Chandra ke toko buku milik Angel.
“ Chandra.. loe gak suka baca buku
ya novel gitu?”
“sumpah demi apapun kagak doyan”
kata Chandra sambil memperhatikan jam tangannya.
“ pantesan loe gak menarik buat
cewek.. ..”
“ aneh loe.. bukannya cewek sukanya
cowok balap.. ngapain sih kita disini?” kata Chandra sambil memperhatikan
seluruh isi ruangan toko buku.
“ gua mau cari buku. Buat disewa..
loe tunggu disini aja. Kalau uda selesai gua balik lagi..”
Chandra duduk sambil memainkan
teleponnya dan agnes mencari buku. Beberapa saat kemudian ia kembali. Ia
membawa beberapa buku.
Dan mereka pergi. Tiba-tiba Chandra
ingin mengatakan isi hatinya saat di mobil dalam keadaan macet di jalan.
“ nes.. boleh gua Tanya gak?”
“ Tanya aja. Ngapain pake izin
segala?”
“ sebenarnya. Haram gak sih buat loe
kalau cowok seperti gua jadi pacar loe..”
Agnes terdiam dan melirik mata
Chandra.
“ ini loe lagi bercanda apa serius
sih..?”
Chandra terdiam dan hendak
mengatakan sesuatu tetapi mobil belakang mulai marah-marah dengan suara
klaksonnya yang berisik. Ia melewatkan pertanyaan itu dan sampai tibalah di
depan pintu rumah agnes.
“ nes..gua cinta sama loe..?”
Agnes melihat wajah Chandra dengan
wajah serius.. “ kok.. bisa?” tanyanya heran.
“ ya itulah isi hati gua.. Cuma
itulah yang membuat gua seperti saat ini, saat ingin terus sama loe..walau gua
harus melihat sendiri bagaimana waktu ke waktu keadaan loe..”
“ gua ini uda banyak dosa loh.. dan
semua dosa gua loe catet kan? Ngobat. Sampai-sampai gua pengen mati.. loe kok
masih bisa cinta sama kayak orang dosa gini?”
“ karena gua percaya.. suatu saat
loe pasti berubah..”
Agnes turun dari mobil sambil
berkata.
“ berubah. Buat apa?”
“ buat gua.. “
Dengan wajah emosi.
“ gak usah ngomongin cinta diantara
kita. Ngomongin aja bagaimana kita terus berteman. Cinta itu gak ada dalam
hidup gua.. liat gak bokap gua.. pergi gitu aja setelah nyokap gua hamil?
Cinta itu bullshit.. Cuma ada didongeng.. kalau loe mau cinta sama gua.. loe
sama saja mau jadi korban..”
“ korban apaan. Gua jujur salah
ya..”
“ salah.. jadi selama ini loe mau
baik sama gua Cuma mengharapkan cinta?”
Chandra terdiam..
“ mungkin.. atau tidak.. gua gak
pernah tau.. tapi gua tulus cinta dan menerima apapun yang terjadi dengan
loe..”
“ sorry. Gak sempat gua bahas cinta.
Gua pamit dulu..”
Agnes pergi begitu saja tanpa rasa
dan jawaban. Kini giliran Chandra yang merasa bersalah. Menjadi bodoh karena
mengapa tiba-tiba mengungkapkan isi hati. Sudah kehilangan cinta. Kehilangan
sahabat. Berhari-hari kemudian. Chandra muncul didepan rumah agnes. Agnes
selalu menghindar. Tanpa alasan dan tanpa kata-kata apapun. Sampai akhirnya ia
menyerah dan pergi untuk terakhir kalinya bertemu agnes. Agnes melihat Chandra
di depan rumah dan merasa simpatik.
“ Chandra.. gua mau kasih tau loe
sesuatu. Kalau loe benar-bener pengen tau?apakah gua bisa cinta sama loe.. loe
masih ingat kan toko buku yang biasa gua sewa buku. “
“ iya kenapa?”
“ cari di semua bagian novel halaman
128. Disitulah loe tau. Apakah cinta kita bisa atau mustahil..”
“ kenapa gak langsung aja? Kenapa
mesti cari di novel?”
“ jangan pernah muncul dihadapan gua
sampai loe dapatin novel itu dan jangan pernah telat. Loe hanya boleh cari
novel itu di jam 12. Lewat 8. Inget…setelah ini jangan pernah kembali sampai
loe nemuin, karena gua akan pernah mau ketemu loe..”
Agnes pergi berjalan perlahan
meninggalkan Chandra
“ gua akan cari.. dan cari sampai
dapat.. itu janji gua..”
Agnes pun menutup
pintu dengan tangis. Memegang bagian perutnya. Menatap kepergian Chandra.
Kini aku mengerti mengapa ia
memiliki alasan untuk mencari novel di setiap halaman 128. Dan aku merasa
simpatik lalu menawarkan bantuan,
“ ngapain mesti cari setiap novel?
Tinggal kasih tau aja siapa nama membernya terus aku cari datanya kan
gampang..”
“ iya juga ya.. kenapa ga
kepikiran,.”
Aku pun mengajaknya ke meja
computer. Dan mencari data agnes yang ternyata memiliki member nama yang sama
cukup banyak. Karena sistem computer ini hanya mengunakan angka. Maka tidak
akan bisa melihat nama lengkap. Tertela agnes dengan jumlah ratusan. Sama saja
membuat pusing kepala.
“ ya sulit kalau gini? Ga coba nanya
ke agnes berapa nomor member dia?”
“ uda dua minggu ini aku ga bisa
nemuin dia. Kan uda janji gak akan nemuin dia sampai berhasil bawa bukunya..”
“ ya..” kataku lemas
“ ya sudah gapapa. Aku balik dulu
aja. Besok kan masih bisa cari lagi. Soalnya ada urusan..”
Aku menatap pria itu pergi. Malam
sebelum aku menutup toko. Entah mengapa aku jadi terpikir angka 128 yang selalu
dikatakan Chandra. Mencoba mencari angka member tersebut. Ternyata bukan milik
Agnes. Tapi ketika aku mengubahnya menjadi 821. Secara ajaib muncul nama agnes,
dan aku pun menemukan buku yang ia sewa di computer. Aku mencari buku berjudul“
my last love “ di list novel yang ia sewa dan mencarinya di rak novel. Setelah
menemukan buku itu, aku langsung membuka halaman 128.
Tertulis dengan bulatan pensil
sebuah kalimat
“ bila aku menerima cintamu- apakah
kamu masih bersedia menjadi ayah dalam kandunganku? Aku selalu mencintamu sejak
saat kita berkenalan, tapi aku tidak pernah mengerti mengapa kau membiarkan aku
mendapatkan cinta lain sebelum engkau mengatakan cinta itu sampai kini aku
telah tersesat”
Aku pun paham. Bahwa Agnes hamil.
Lalu mencari nomor telepon Chandra. Meneleponya dan memintanya untuk segera ke
toko buku. Ia terkejut ketika aku menemukan novel itu. Beberapa saat kemudian
ia datang dan aku menyerahkan buku itu dan ia membaca kalimat yang sama
denganku.
“ jadi, mungkin itu alasannya.. “
Terima kasih ya Angel. aku pergi
dulu.
“ tunggu Chan..” kataku
“ cinta itu tidak selalu berwarna
putih. Selalu ada hitam. Tapi keduanya adalah dua hal yang membuat dunia ini
terasa indah.. terima lah bila kamu memang cinta..”
“ pasti..”
Aku hanya bisa mengelah nafas.
Melihat kisah cinta ini. seperti dalam sebuah dongeng yang tak pernah terjadi.
Bagaimana cinta meruntuhkan rasa hitam dalam setiap putih.
Dua minggu kemudian..
Agnes dan Chandra datang,
menyerahkan kartu undangan pernikahan.
“ kalian menikah..”
“ karena dengan inilah kelak aku
bisa bertanggung jawab sebagai manusia. Cinta dan kasih sayang. Menerima apapun
hitam atau putih dalam kehidupan seperti yang kamu bilang.”
Kata Chandra..
Tamat
Karya:
“Agnes Davonar”
0 komentar:
Posting Komentar