. Langkah Menuju Hidupku: Juni 2012

About


Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pages

Blogger templates

Rabu, 27 Juni 2012

provinsi Lampung


SEJARAH PROVINSI LAMPUNG
(kota kelahiranku)

Provinsi Lampung lahir pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung merupakan Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan.
Kendatipun Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 maret 1964 tersebut secara administratif masih merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, namun daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah menunjukkan potensi yang sangat besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khasanah adat budaya di Nusantara yang tercinta ini. Oleh karena itu pada zaman VOC daerah Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda.
Tatkala Banten dibawah pimpinan Sultan Agung Tirtayasa (1651-1683) Banten berhasil menjadi pusat perdagangan yang dapat menyaingi VOC di perairan Jawa, Sumatra dan Maluku. Sultan Agung ini dalam upaya meluaskan wilayah kekuasaan Banten mendapat hambatan karena dihalang-halangi VOC yang bercokol di Batavia. Putra Sultan Agung Tirtayasa yang bernama Sultan Haji diserahi tugas untuk menggantikan kedudukan mahkota kesultanan Banten.
Dengan kejayaan Sultan Banten pada saat itu tentu saja tidak menyenangkan VOC, oleh karenanya VOC selalu berusaha untuk menguasai kesultanan Banten. Usaha VOC ini berhasil dengan jalan membujuk Sultan Haji sehingga berselisih paham dengan ayahnya Sultan Agung Tirtayasa. Dalam perlawanan menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Haji meminta bantuan VOC dan sebagai imbalannya Sultan Haji akan menyerahkan penguasaan atas daerah Lampung kepada VOC. Akhirnya pada tanggal 7 April 1682 Sultan Agung Tirtayasa disingkirkan dan Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten.
Dari perundingan-perundingan antara VOC dengan Sultan Haji menghasilkan sebuah piagam dari Sultan Haji tertanggal 27 Agustus 1682 yang isinya antara lain menyebutkan bahwa sejak saat itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas daerah Lampung diserahkan oleh Sultan Banten kepada VOC yang sekaligus memperoleh monopoli perdagangan di daerah Lampung.
Pada tanggal 29 Agustus 1682 iring-iringan armada VOC dan Banten membuang sauh di Tanjung Tiram. Armada ini dipimpin oleh Vander Schuur dengan membawa surat mandat dari Sultan Haji dan ia mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yang pertama ini ternyata tidak berhasil dan ia tidak mendapatkan lada yag dicari-carinya. Agaknya perdagangan langsung antara VOC dengan Lampung yang dirintisnya mengalami kegagalan, karena ternyata tidak semua penguasa di Lampung langsung tunduk begitu saja kepada kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni, tetapi banyak yang masih mengakui Sultan Agung Tirtayasa sebagai Sultan Banten dan menganggap kompeni tetap sebagai musuh.

Sementara itu timbul keragu-raguan dari VOC apakah benar Lampung berada dibawah Kekuasaan Sultan Banten, kemudian baru diketahui bahwa penguasaan Banten atas Lampung tidak mutlak. Penempatan wakil-wakil Sultan Banten di Lampung yang disebut "Jenang" atau kadang-kadang disebut Gubernur hanyalah dalam mengurus kepentingan perdagangan hasil bumi (lada).
Sedangkan penguasa-penguasa Lampung asli yang terpencar-pencar pada tiap-tiap desa atau kota yang disebut "Adipati" secara hirarkis tidak berada dibawah koordinasi penguasaan Jenang/ Gubernur. Jadi penguasaan Sultan Banten atas Lampung adalah dalam hal garis pantai saja dalam rangka menguasai monopoli arus keluarnya hasil-hasil bumi terutama lada, dengan demikian jelas hubungan Banten-Lampung adalah dalam hubungan saling membutuhkan satu dengan lainnya.
Selanjutnya pada masa Raffles berkuasa pada tahun 1811 ia menduduki daerah Semangka dan tidak mau melepaskan daerah Lampung kepada Belanda karena Raffles beranggapan bahwa Lampung bukanlah jajahan Belanda. Namun setelah Raffles meninggalkan Lampung baru kemudian tahun 1829 ditunjuk Residen Belanda untuk Lampung.
Dalam pada itu sejak tahun 1817 posisi Radin Inten semakin kuat, dan oleh karena itu Belanda merasa khawatir dan mengirimkan ekspedisi kecil di pimpin oleh Assisten Residen Krusemen yang menghasilkan persetujuan bahwa :
1.    Radin Inten memperoleh bantuan keuangan dari Belanda sebesar f. 1.200 setahun.
2.    Kedua saudara Radin Inten masing-masing akan memperoleh bantuan pula sebesar f. 600 tiap tahun.
3.    Radin Inten tidak diperkenankan meluaskan lagi wilayah selain dari desa-desa yang sampai saat itu berada dibawah pengaruhnya.
Tetapi persetujuan itu tidak pernah dipatuhi oleh Radin Inten dan ia tetap melakukan perlawananperlawanan terhadap Belanda.
Oleh karena itu pada tahun 1825 Belanda memerintahkan Leliever untuk menangkap Radin Inten, namun dengan cerdik Radin Inten dapat menyerbu benteng Belanda dan membunuh Liliever dan anak buahnya. Akan tetapi karena pada saat itu Belanda sedang menghadapi perang Diponegoro (1825 - 1830), maka Belanda tidak dapat berbuat apa-apa terhadap peristiwa itu. Tahun 1825 Radin Inten meninggal dunia dan digantikan oleh Putranya Radin Imba Kusuma.
Setelah Perang Diponegoro selesai pada tahun 1830 Belanda menyerbu Radin Imba Kusuma di daerah Semangka, kemudian pada tahun 1833 Belanda menyerbu benteng Radin Imba Kusuma, tetapi tidak berhasil mendudukinya. Baru pada tahun 1834 setelah Asisten Residen diganti oleh perwira militer Belanda dan dengan kekuasaan penuh, maka Benteng Radin Imba Kusuma berhasil dikuasai.
Radin Imba Kusuma menyingkir ke daerah Lingga, namun penduduk daerah Lingga ini menangkapnya dan menyerahkan kepada Belanda. Radin Imba Kusuma kemudian di buang ke Pulau Timor. Dalam pada itu rakyat dipedalaman tetap melakukan perlawanan, "Jalan Halus" dari Belanda dengan memberikan hadiah-hadiah kepada pemimpin-pemimpin perlawanan rakyat Lampung ternyata tidak membawa hasil. Belanda tetap merasa tidak aman, sehingga Belanda membentuk tentara sewaan yang terdiri dari orang-orang Lampung sendiri untuk melindungi kepentingan-kepentingan Belanda di daerah Telukbetung dan sekitarnya. Perlawanan rakyat yang digerakkan oleh putra Radin Imba Kusuma sendiri yang bernama Radin Inten II tetap berlangsung terus, sampai akhirnya Radin Inten II ini ditangkap dan dibunuh oleh tentara-tentara Belanda yang khusus didatangkan dari Batavia.
Sejak itu Belanda mulai leluasa menancapkan kakinya di daerah Lampung. Perkebunan mulai dikembangkan yaitu penanaman kaitsyuk, tembakau, kopi, karet dan kelapa sawit. Untuk kepentingan-kepentingan pengangkutan hasil-hasil perkebunan itu maka tahun 1913 dibangun jalan kereta api dari Telukbetung menuju Palembang.
Hingga menjelang Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 dan periode perjuangan fisik setelah itu, putra Lampung tidak ketinggalan ikut terlibat dan merasakan betapa pahitnya perjuangan melawan penindasan penjajah yang silih berganti. Sehingga pada akhirnya sebagai mana dikemukakan pada awal uraian ini pada tahun 1964 Keresidenan Lampung ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat I Provinsi Lampung.

»»  READMORE...

kekasihku Daniel


Kekasihku Daniel-Arti Kebaikan Sesungguhnya dalam Hidup
Saat Terindah Dalam Hidupku Adalah Bersamamu, Saat Tersedih Dalam Hidupku Adalah Kehilanganmu” Agnes Davonar, penulis.

Namanya Daniel, cowok yang baru berusia 24 tahun. Wajahnya.. kata orang sih gak ganteng, ngak pinter dan juga ngak atletis. Sampai detik ini, temen-temen masih mikir? Kok bisa ya dia jadi pacar gua? Padahal sumpah mati mereka tau, gua gak pernah berharap punya pacar kayak dia. Banyak yang bilang kalau wajah gua yang lumayan cantik bila jalan sama dia? Bakal seperti antara majikan dan pembantu.
Mungkin awalnya demikian, tapi dari seorang Daniel. Gua belajar banyak tentang bagaimana menghargai seorang laki-laki, bagaimana memperlakukan laki-laki dan terakhir bagaimana  mengerti arti cinta itu sesungguhnya.
Suatu hari, gua lagi asyik online. Teman-teman gua, semua uda pada mulai eksis di dunia facebook. Rasanya kalau gua gak gabung, bisa jadi gua dianggap gadis kampung. Padahal orang kampung pun uda pakai facebook. Lupakan sejenak kisah stupid itu, yang pasti dari facebook. Gua bisa kontak-kontakan lagi sama teman-temen gua dari jaman pipis di celana sampai sekarang ngerti kalau umur gua uda cukup tua sebagai cewek, 23 tahun.
Nah, karena baru aja putus cinta. Rasanya gua alergi banget sama foto-foto mantan gua yang nangkring di facebook gua, jadi tugas gua malam itu adalah menghapus semua foto-foto mantan gua. Tapi semakin gua perhatikan foto-foto kenang-kenangan kita, kok rasanya gua jadi sedih sendiri ya. Sampai tanpa sadar gua jadi nangis, padahal yang minta putus juga gua, hal kecil sih, gara-gara dia mau sekolah di luar dan gua gak setuju. Apa daya, bokapnya jenderal dan dia ajudan. Pisah deh hubungan kita,
Saat gua menangis, chat online di Facebook nyala, seseorang muncul dan berkata memperhatikan gua sedang menghapus semua foto-foto gua. Dia bilang
“ Lagi putus cinta ya? “ Kata dia.
Awalnya gua mau cuekin, tapi kayaknya bakal menarik juga ya kalau gua marah-marah dan maki-maki orang ini, soalnya gua perhatiin, kita gak kenal sama sekali.
“ Sok tau loe?” kata gua,
“ Ya tau dong, kan gua juga lagi putus cinta, senasib deh..”
Kalimat dia yang bikin gua langsung nyegir. Penasaran sekaligus merasa senasib. Singkat kata, walaupun gua ga kenal dia, akhirnya kita malah jadi curhat-curhatan. Gua jadi tau juga, kalau dia putus sama pacarnya karena gak cocok setelah 5 tahun pacaran. Dalam hati gua berkata, kalau 5 tahun segitu lamanya dibilang kagak cocok, jadi selama 5 tahun itu ngapain ya?.
Akhirnya kita gak bicara lagi setelah malam itu, tapi dia sempat mengatakan nama dia ke gua.
“ Gua Daniel, thanks uda mau temenin gua ngobrol malam ini?”
Gua hanya senyum-senyum manggut, setau gua, harusnya gua yang curhat, kok malah jadi dia. Ya sudahlah, setidaknya dia uda bikin malam ini berwarna. Kita pun pisah, tanpa bicara dan gua sempat mengenalkan diri gua dengan bilang, “ Panggil gua Angel aja, kalau perlu blackAngel.”
“ Kenapa harus BlackAngel, kenapa ga WhiteAngel”
Gua terdiam dan offline dari facebook gua. Bukan urusan dia kalau gua mau jadi white or black, yang pasti hari itu menjadi hari perkenalan kita.
***
2 bulan kemudian.
Sahabat gua Agnes, tiba-tiba nikah. Dia ngundang gua datang ke kawinan dia. Gua tau, tentunya tau banget rasanya ke undangan seorang diri. pasti di bilang kagak laku atau parahnya perawan tua. Kalau bukan karena Agnes ini teman baik gua waktu jaman smp, pasti gua gak mau datang. Dengan terpaksa gua ajak adik gua, Teddy. Walaupun dia itu masih kecil, setidaknya orang-orang bakal kepikiran dia pacar gua kalau ga kenal. Cara yang jitu untuk membuat gua lepas dari julukan jomblo.
Seperti yang gua duga, undangan bakal dipenuhi temen-temen gak jelas. Akhirnya gua hanya bisa mojok sambil menikmati jus jeruk, karena udangan berdiri, gua harus rebutan sama banyak orang. Nah, saat gua uda menemukan satu bangku, gua mau lompat, eh tiba-tiba nenek-nenek tua nyerobot gitu aja. Jus di tangan gua jatuh dan tanpa sengaja kena sama cowok yang lagi duduk disampingnya. Omg.. gua jadi parno sendiri ngelihat tuh cowok kemeja putihnya jadi berwarna belang.
“ Sorry..” kata gua dan cowok itu natap gua dengan perasaan kesal tentunya.
“ Gapapa..” kata dia bangkit dari kursi dan pergi keluar ruangan, banyak yang lihatin gua, akhirnya gua terpaksa keluar dari ruangan pernikahan itu daripada dilihatin banyak orang.
Saat gua keluar, cowok yang tadi ketimpa jus gua, sedang bersih-bersih dengan tissue. Gua memperhatikan dan mendekat ke dia.
“ Sorry ya sekali lagi, tadi ga sengaja banget.”
“ Gapapa, tapi kok loe ga asing ya buat gua?” kata cowok itu.
“ Masa sih, maybe gua mukanya pasaran kali ya..”
“ Oh, gua inget. Loe temen facebook gua.. Angel ya namanya?” kata dia dan gua berpikir bisa jadi juga soalnya kan facebook itu sesuai tujuannya, menghubungan anda dengan semua orang.
“ iya benar, emang nama loe siapa?”
“ Gua Daniel, dulu kita sempat chat. Tapi uda lama banget..” kata dia dan gua pura-pura senyum and merasa inget..
“ Mungkin ya,. “
Dia pun menjelaskan kalau Agnes ini masih ada hubungan teman sama dia, akhirnya lupa deh kejadian jus jeruk tumpah itu. Sebenarnya sih, gua ga ada minat sama sekali ketika melihat wajah dia. Gak ganteng dan gak menarik, Cuma menang tinggi dan putih aja. Level gua terlalu tinggi dalam menilai pria, kita bicara banyak tapi ala kadarnya, beruntunglah adik gua muncul dan akhirnya hendak membawa gua pergi. Gua pun pamitan, tiba-tiba dia nanya.
“ Angel, boleh minta nomor telepon ga?”
“ Heh..” mulut gua terkunci, rasanya gak mau kasih, tapi melihat perlakuan gua sama baju dia, akhirnya gua pun kasih.
Dia tersenyum. Dan akhirnya pesta berakhir dan kita pun berakhir, ini gua sebut. Takdir kedua kita , setelah facebook online dulu.
***
Benar kata nenek gua, yang namanya jodoh, gak akan lari kemana-kemana. Gua kembali ditakdirkan ketemu sama si Daniel. Dia emang ga pernah nelepon atau sms gua setelah gua kasih nomor telepon gua. Tapi kita kembali ketemu saat tiba-tiba motor bebek gua mogok di jalan. Astaga, neh motor pas bawa dari rumah masih ok-ok aja. Kok tiba-tiba mati dijalan. Padahal tujuan gua naik motor ini Cuma mau beli makanan anjing gua di depan rumah. Gua bengong di jalan, tiba-tiba, si Daniel itu muncul. begonya lagi sampai detik itu gua ga lupa nama dia.
Entah bagaimana dia muncul, tapi motor gua beres saat itu juga. Saat gua Tanya kenapa bisa ada disini, dia bilang, dia mau ke rumah temen buat main futsal di deket Puri. Takdir yang aneh, walaupun dia sudah menolong motor gua yang ternyata businya lepas saat gua rem. Gua ga bilang terima kasih, tapi pergi gitu aja. Saat di depan toko anjing, gua baru merasa salah, harusnya gua bilang thks or apa gitu. Akhirnya gua berjanji dalam hati gua, kalau dia muncul lagi dalam hidup gua, gua bakal bilang terima kasih.
Sepertinya Tuhan emang uda mengatur semuanya, sekali lagi kita ketemu. Tapi kali ini, dalam keadaan berbeda. Saat itu, foto dia muncul di halaman depan facebook gua, foto dimana dia disitu lagi pakai baju kemeja dan terlihat lebih keren dari sebelumnya yang hanya pakai kaos oblong. Gua pun mengirimkan pesan di wall dia, dan berkata.
“ thks buat waktu itu di jalan, lupa bilang thksnya..” kata gua dan beberapa menit kemudian dia balas.
“ Sama-sama, sering-sering aja ya.. “ maksud dia ini ngeledekin gua supaya sering-sering mogok gitu apa gimana? Gua kaga ngerti. Tapi semua wall-wall di facebook kita berlanjut dengan kesapakatan kalau gua bakal traktir dia.
Kita janjian dan akhirnya untuk pertama kali dia nelepon gua. Gua bilang, gua akan ngajak dia makan di pizza hut puri. Kebetulan ada harga diskon buat berdua, hahaha, jangan pikir gua ini pelit ya, tapi emang lagi pengen aja. Kita janjian malam itu. Dia datang, dan kita bicara panjang lebar. Mengenal Daniel lebih dalam tentang siapa dia, yang pasti dia ini ternyata tinggal di daerah yang gak jauh dari tempat gua. Anaknya menarik,sopan dan yang pasti lugu sekali. Gua bukan cewek yang bodoh dalam menilai, tapi gua yakin banget,. Daniel itu terlalu polos sebagai cowok, apalagi ditambah dengan kalimat dia tentang kisah cinta dia yang berujung kalau dia di selingkuhi sama pacar dia,.
Saat-saat asyik lagi ngobrol. Tiba-tiba mantan gua muncul bersama gadis lain. Gua bingung, katanya dia mau kuliah di China. Lah kok tiba-tiba malah gandeng cewek. Gua memperhatikan dia berjalan, akhirnya dia sadar gua ada disana. Gua bangkit dan mendekatin dia.
“ Katanya loe ke China? Kok malah asyik pacaran?” kata gua emosi. Mantan gua sepertinya lebih berani membalas emosi gua dengan kalimat yang lebih menyakitkan.
“ Mau gua ke China atau Asyik pacaran? Ini kan bukan urusan loe? Loe kan bukan siapa-siapa gua?” mendengar kalimat itu gua langsung sakit di hati.
“ Maksud loe apa sih?” kata gua.
“ Eh, Angel, uda cukup ya loe mengontrol hidup gua, gua uda muak selama ini sama hubungan kita, loe pikir loe ini kecantikan hingga bisa suruh-suruh gua seenak hati loe. Gua senang akhirnya kita putus walau dengan alasan ke China. Karena gua sudah bosen lihat tingkah loe yang sok otoritir”
Mendengar kalimat itu, tangan gua spontan menampar dia. Rasanya sakit sekali mendengar orang yang pernah gua cintai bicara demikian. Daniel bangkit, menarik gua perlahan. Mengajak gua duduk. Gua ingin menangis, tapi gua menahan semuanya.
“ Gua mau pulang “ ucap gua langsung berjalan meninggalkan tempat makan, Daniel mengikuti gua sampai ke tempat parkir.
“ Angel.. “ teriak Daniel dan melihat dia,. Gua langsung menangis. Menangis karena harga diri gua sebagai perempuan telah hancur oleh hinaan mantan gua. Dia memeluk gua. Dan kalimatnya yang indah membuat gua tersadar untuk berhenti menangis.
“ Angel, jangan menangis untuk orang yang menyakiti loe, tapi menangis untuk kebahagiaan loe karena akhirnya loe tau siapa pria itu..”
Daniel benar, gua gak boleh menangis karena orang stupid itu, harusnya menangis karena bahagia akhirnya gua tau cinta dia itu palsu.
***
Daniel seperti obat bagi kehidupan gua setelah makan siang berantakan itu, gua banyak menghabiskan waktu sama dia. Tapi gua gak pernah menganggap dia sebagai apapun selain teman. Lucunya, dia seperti banyak waktu untuk orang seperti gua, dia rela belajar main tenis untuk bisa main sama gua. Dia rela ke salon bareng gua sekedar creambath, padahal rambutnya kan pendek. Tapi semua dia lakukan untuk apa, gua masih bertanya-tanya dalam hati. Yang pasti hal itu biar menjadi rahasia dia.
Tapi gua sempat menunjukan kalimat yang mungkin menurut gua sangat keterlaluan. Suatu ketika. Didepan sahabat-sahabat gua. Seorang teman bertanya sama gua.
“ Angel loe jadian ya sama Daniel?”
“ Heh, ga salah loe? Mana mungkin, Daniel itu kan bukan tipe gua, ga level lah ya..” gua mungkin hanya ingin bercanda saat itu, tapi saat itu Daniel muncul. gua terdiam. Dia hanya tersenyum. Gua yakin dia mendengar kalimat itu, dan waktu berjalan gua melupakan semua kalimat jahat gua itu sama dia.
Daniel memang pria yang sangat baik, dia tidak pernah merasa sedih dengan kalimat-kalimat gua. Dia tetap selalu setia ada dalam hidup gua. Dia rela menjaga anjing gua di rumah saat gua pergi keluar kota sama keluarga. Padahal gua tau dia alergi sama bulu anjing. Jadi kalau pas gua jemput anjing gua, muka dia merah-merah gitu. Pas gua Tanya, dia bilang cuma salah makan padahal akhirnya gua tau, dia itu alergi bulu anjing.
Entah apa yang dipikiran Daniel. Mengapa dia sangat baik sama gua. Lama-kelamaan gua jadi mempertanyakan kebaikan dia. Di suatu malam, entah karena gua lagi bad mood karena habis rebut sama nyokap. Gua langsung mempertanyakan semua yang ingin gua tau.
“ Kenapa sih, loe ini ini baik sama gua?” Tanya gua.
“ Gua baik sama siapapun kok, buat apa jahat sama orang?” jelas dia ngambang.
“ Tolong jujur, loe ini suka gua apa nggak, dan kebaikan loe ini ada maksud untuk merebut hati gua apa gimana?”
Daniel terdiam menatap wajah gua hampa dan berkata.
“ Angel, gua mungkin suka sama loe, tapi rasa suka gua? tidak akan sebesar keinginan gua untuk berharap menjadi kekasih loe, menjadi sahabat loe saja sudah cukup bagi hidup gua. Ngerti..”
“ Tapi gua ga mau dibaikin sama loe, gua gak mau loe salah paham. Gua Cuma ingin loe tau, kebaikan loe itu bikin gua merasa bingung, karena gua sama sekali gak kepikiran loe jadi pacar gua.”
“ Ya, gua tau kok. Gua pun ga kepikiran sama kesana. Tenang aja..”
Tapi gua tetap ragu dengan jawaban dia, sejak saat itu gua putusan untuk gak mau ketemu dia. Gua juga merasa risih dengan gosip dari semua orang kalau kita adalah kekasih. Sebagai cewek, rasanyaDaniel tidak pantas untuk gua. Itu lah kesombongan yang selalu gua pertahankan. Sejak saat itu, gua selalu menghindari Daniel. Ga angkat telepon dia, sampai lebih buruknya menghapus dia dari facebook gua. Gua tau, dia sering mencari gua, sering kirim pesan ke facebook gua, mempertanyakan mengapa gua harus menghindar dan membenci dia secara tiba-tiba. Tapi gensi yang tinggi untuk menjawab akhirnya membuat gua melupakan dia tanpa ampun. Gua bilang lewat pesan facebook.
“ Jangan pernah muncul dalam hidup gua, kalau emang loe anggap gua teman, kalau loe muncul itu hanya bikin gua stress.” Ya, kalimat gua yang kasar untuk seorang Daniel yang tanpa salah.
3 bulan kemudian.
Adik gua Teddy, mengalami sebuah kecelakaan motor. Kakinya patah dan lebih buruknya lagi nyawanya terancam karena dia kehilangan darah yang sangat banyak. Golongan darah adik gua termasuk langkah, berjenis 0, sedangkan stock rumah sakit kosong, akhirnya gua terpaksa meminta tolong sama teman-teman. Celakanya mereka semua gak ada yang punya jenis golongan darah itu. Dokter bilang, dalam waktu 24 jam, stock darah harus ada. Gua cemas. Gua gak mau kehilangan adik gua, setelah kehilangan bokap gua karena meninggal.
Gua terus berdoa dan menulis status gua di facebook tentang kebutuhan darah 0 untuk adik gua. Karena terlalu stress akhirnya gua malah ketiduran dan pasrah. Tiba-tiba saat gua terlelap, suster bilang ke gua. Adik gua sudah mendapatkan donor. Gua begitu bahagia. Darah yang paling sulit itu akhirnya ditemukan. Gua ga terlalu mikir siapa yang mendonorkan darah itu karena lebih mementingkan adik gua selamat dulu karena akan operasi. Tuhan memberkati adik gua, dia selamat dan akhirnya lolos dari masa kritis.
Saat gua lagi santai, suster yang tadi kasih info donor tanpa sengaja bertemu. Gua pun bertanya, siapa donor yang berbaik hati, gua ingin mengucapkan terima kasih. Suster itu bilang.
“ Dia cowok, umurnya 24, tinggi, putih, tapi dia menolak untuk disebutkan namanya. Abis donor langsung pergi gitu aja, uda saya suruh istirahat dulu, tapi gak mau, katanya ada keperluan, padahal darahnya banyak loh yang diambil.”
Ya siapapun dia, gua berterima kasih. Saat gua sudah mulai tenang. Dan adik gua sudah bisa bicara. Seorang sahabat menelepon gua. Dan berkata hal yang sangat mengejutkan.
“ Angel. Daniel kecelakaan mobil. Dia kritis di rumah sakit pik.”
“ Kok bisa?” Tanya gua dalam hati.
“ Loe mau jenguk gak?”
Bodohnya lagi, saat itu gua putuskan untuk tidak menjenguk. Gua masih merasa malu untuk bertemu dia walaupun temen gua bilang dia kritis. Gua heran, sebenarnya gua ini makluk ciptaan tuhan yang gimana sih? Kok gua tiba-tiba gak punya hati untuk seorang yang baik seperti Daniel walau dia sedang kritis.
Seminggu kemudian, gua mendapatkan kabar kalau Daniel dipindahkan ke rumah sakit Singapura untuk perawatan yang lebih baik. Gua masih gak bergeming. Lama-lama gua jad penasaran juga dengan kondisi Daniel. Sampai akhirnya, gua mencuri-curi waktu dengan melihat facebook dia. Sebuah wall dari sahabatnya membuatnya gua sangat terpukul. Tulisan yang membuat gua merasa menjadi gadis yang sangat berdosa. Status terakhir Daniel yang terbaca setelah beberapa hari sebelum kejadian dia kecelakaan,
“ Daniel, adik Angel masuk rumah sakit, dia butuh golongan darah 0. Loe bukannya golongan darah 0. “
“ Iya, gua tau,, gua lagi otw kesana..”
gua jadi teringat kalimat suster tentang sosok Daniel. Dan gua akhirnya paham, mengapa dia gak mau sebutin nama dia saat mendonor, orang semulia ini yang rela menolong tanpa pambrih telah gua lewatkan dalam hidup gua. Gua sangat menyesal. Dengan segara cara gua mencari tau keberadaan Daniel. Gua mencoba telepon dan sms tapi telepn dia ga aktif. Sampai akhirnya gua menyerah. Gua hanya bisa berdoa dia lekas sembuh sehingga gua bisa ketemu dia
tapi rasanya semua itu hanya jadi mimpi. Karena sahabat gua berkata dan membuat tubuh gua lemas.
“ Daniel uda disisi tuhan”
Hati gua hancur. Retak dan sangat menyesal. Bahkan gua gak sempat mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan ketulusan dia disisi gua. Kalau saja gua bisa menarik waktu dan mengubah segalanya, gua akan meminta maaf dan menyadari betapa dia sangat berharga lebih dari arti seorang kekasih.
Dia adalah seorang sahabat yang telah mengajarkan gua tentang arti cinta kasih, tentang sebuah pengorbanan dan kehidupan.
Daniel, mungkin loe gak akan pernah jadi kekasih gua. Tapi loe akan menjadi bagian dalam hidup gua. Dan biarkan gua meminta izin untuk mengatakan kepada dunia kalau loe adalah kekasih gua, walau terlambat.
Semoga kisah ini menjadi kisah yang memberikan arti bagi kalian untuk mengerti kebaikan diatas segalanya.
foto : koleksi pribadi by gettyimage
kini gua berpandapat. berkenalan dengan orang tidak harus dengan fisik yang indah ataupun mulut yang manis. tapi kejujuran dan kebaikan seseorang hanya bisa kita ngerti saat orang itu pergi.


»»  READMORE...

Sabtu, 23 Juni 2012

Hendra


 ” Apa dan bagaimana siapapun yang hadir dalam hidup kita, entah begitu kelamnya sejarah yang ia miliki, bukan kita yang pantes mengatakan ia baik/buruk. hanya Tuhan yang menilai dan waktu yang  membuktikan akan jadi apa ia dalam hidup kita sebagai takdir”
Agnes Davonar


Aku adalah seseorang yang bebas melakukan apapun yang aku sukai. Kuliah di luar negeri, berfoya-foya di saat malam minggu dan menikmati masa mudaku sebagai laki-laki tanpa harus peduli bagaimana aku memikirkan masa depanku. Semua kulalui dengan baik-baik saja sampai akhirnya, hidupku serasa berhenti ketika semua kebutuhan dan kesenanganku hilang. Tidak ada lagi uang di ATM pribadiku, tagihan kartu kredit membengkak dan uang kuliah belum terbayar. Tidak seperti biasanya, ayah akan mengirimkan uang kepadaku, tapi tiba-tiba tanpa alasan semua ia hentikan.
Karena mustahil bagiku hidup diluar negeri dengan dompet kosong, aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mencari tau mengapa semua kebutuhanku lenyap begitu saja.  Aku ingin marah pada ayah, ia mencampakan aku begitu saja tanpa sebab.  Saat aku pulang ke rumah, bukan ayah yang kutemui tetapi malah dua orang yang asing bagiku. Seorang wanita paruh baya dan anaknya.  Mereka seperti mengenalku, tapi aku tidak mengenal mereka. Wanita itu menjelaskan bahwa ia adalah istri ayahku dan anaknya adalah adikku.
Ibu memang sudah meninggal sejak aku kecil. Tapi selama ini, yang aku tau. Ayah tidak pernah menikah lagi. Tapi ternyata ia mampu menyembuyikan dariku selama 18 tahun dengan wanita itu sampai melahirkan adik tiriku bernama Hendra 3 tahun lebih muda dariku. Saat aku pindah kuliah ke luar negeri, ayah membawa mereka untuk tinggal dirumah. Lalu pertanyaanku? Dimana ayah? Mengapa hanya ada mereka dalam rumahku.
“ Chandra, ayahmu sudah sejak tiga tahun lalu gak pulang-pulang.. tante juga gak tau kemana ayah kamu.. ia memang mengirimkan uang ke kami tapi sama seperti kamu sejak beberapa bulan terakhir dia gak kasih apa-apa ? untuk menyambung hidup kami hanya mengadarkan tabungan ” jelasnya padaku.
Mendengar cerita ibu tiriku, sepertinya aku tau.  Ada masalah besar dalam keluargaku. Ayah melarikan diri dari keluarga untuk alasan yang tidak aku mengerti, bisa saja ia bangkrut atau mungkina da wanita lain. Aku kecewa dengan sikap ayah yang tidak bertanggung jawab. Hidupku seperti berubah 180 derajat ditambah dengan dua orang asing yang tinggal serumah denganku. Aku mencoba beradaptasi dengan makanan sederhana, adik tiri yang tampak gemulai dan lemah. Tapi kadang ia berguna juga saat aku menyuruhnya melakukan perkerjaan seperti membersihkan kamar dan membeli apa saja yang aku mau.
Waktu berjalan, suatu hari aku bertengkar hebat dengan Hendra hanya karena masalah sepele. Aku menyuruhnya untuk membeli rokok di warung, tapi ia tidak kembali setelah aku menunggu dua jam lamanya.  Aku menjadi marah saat melihatnya pulang tanpa membawa rokok yang kuinginkan.
“ gua suruh loe beli rokok, bukan suruh loe jalan-jalan.. kenapa baru sekarang loe balik.. uda 2 jam..!! terus rokok yang gua suruh beli pun gak ada?”
“ tadi.. gue uda beli tapi..”
“ tapi kenapa?”
“  gua di todong sama anak jalanan..”
Mendengar Hendra ditodong oleh anak-anak jalanan sekitar komplek, aku menjadi marah. Lalu aku memaksanya untuk mengantarkan aku mencari anak-anak itu. Aku berhasil menemukan anak-anak jalanan ini dan berkelahi dengan mereka. Saat aku merasa menang dalam perkelahian itu, tiba-tiba satu diantara anak-anak itu mulai mengambil kayu padat dan mencoba menghajarku di belakang badan, Hendra berlari melindungiku, badannya terhantam kayu padat dan tiba-tiba ia tergeretak jatuh pingsan dengan mulut mengeluarkan darah segar. Mereka semua lari melihat kejadian itu dan aku langsung membawa Hendra ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian ibu tiriku tiba di rumah sakit. Aku bercerita semua kejadian itu dan ia marah padaku. Aku hanya terdiam dan merasa bersalah. Hendra jadi seperti ini karenaku. Ibu bukan marah karena masalah ribut bersama anak-anak jalanan tapi ada hal lain. Aku jadi tau, mengapa Hendra begitu lemah dan terlihat tak seperti diriku yang kuat.
“ adikmu itu sejak kecil mengalami gagal jantung.. ia tidak boleh terlalu lelah dan ayahmu sudah mencoba banyak hal untuk menyembuhkan tapi gagal.. selamanya ia akan seperti itu..ditambah dengan kejadian hari ini.. tante jadi takut..”
Aku terdiam, merasa bersalah. Andai saja aku tau lebih banyak tentang penyakitnya, mungkin aku tidak akan membuat kejadian seperti tadi terjadi. Nasi telah menjadi bubur, Hendra dirawat beberapa hari sampai Dokter menyatakan ia boleh dipulangkan. Aku beruntung, ia bisa melewati masa kritis dan bangkit walau hal pahit harus dikatakan oleh dokter.
“ Umur Hendra tidak dapat diprediksi, hanya Tuhan yang tau bagaiaman ia akan terus hidup, tapi saya boleh katakan jantungnya hanya berfungsi 30 persen dengan baik..”
Ibu tiriku sepertiku sudah kuat menerima keputusan vonis itu. Ia hanya mencoba bersabar. Saat Hendra bangun, aku mendekatinya. Ia menatapku.
“ loe kenapa gak bilang kalau loe sakit..?”
“ gapapa.. lagian sakit ini Cuma di dalam.. gak perlu dicerita-cerita.. “
“ kenapa loe ngelindungi gua,, padahal gua kan suka jahat sama loe..”
“ hm.. kita kan saudara.. sampai mati pun kita tetap saudara.. hal yang gak akan bisa diubah oleh apapun..”
Aku tersentuh oleh kata-kata terakhirnya, ia sepertinya tidak marah padaku walau sikap dan caraku padanya selalu tidak baik. Setelah dirasa cukup sehat. Hendra pun diizinkan pulang. Mulai saat itu aku bertekad menjadi kakak yang baik, walau aku tau. Ia hanya adik tiriku. Tapi ia adalah orang yang ditakdirkan memiliki darah yang sama denganku. Ayah yang sama dengaku dan perjuangan hidup yang sama denganku. Aku memutuskan untuk bekerja freelance sebagai desain grafik sesuai keahalian kuliahku.  Aku hanya ingin Menabung untuk mencoba mandiri. Tidak enak hati bagiku untuk meminta dengan ibu tiriku, sebab tentunya ia harus membiayai pengobatan Hendra yang mahal dari tabungannya.
Keadaan Hendra tak kunjung membaik, ia mulai sering merasa pusing dan lemas begitu saja. Ibu dan aku hendak merayakan hari ulang tahunnya ke 18.  Dengan makan keluarga kecil, aku berharap ia bahagia saat itu. Aku memberikan kado kecil buku motivasi. Kami merayakan dengan bahagia dan permintaan ulang tahunnya kepada Tuhan pun sangat sederhana.
“ Rahasia..” katanya padaku dan ibu yang diam seribu bahasa.
Usai perayaan kecil, Malam itu Hendra membaca di teras rumah, aku mendekatinya. Ia melihatku dan berkata.
“ hidup gue gak lama lagi..?” dengan nada putus asa.
“ kenapa bilang begitu?”
“ gua lebih tau gimana hidup gua, karena penyakit itu ada di tubuh gua.?”
“ terus.. loe merasa putus asa gitu aja?” kataku.
Ia terdiam, melempar buku motivasi yang kuberikan padanya.
“ gua gak butuh buku ini, gua cuma pengen satu hal dalam hidup  gua sebelum mati..?”
Aku marah dan kesal melihat sikap Hendra yang membicarakan kematian..
“ Ok!! Loe mau apa? “
“ gua mau ketemu bapak..?” katanya singkat..
Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Permintaan sederhana yang sesungguhnya aku sendiri tidak akan bisa menjawabnya sebab sampai detik ini aku tidak pernah dimana ayah  kami berada.
“ buat apa ketemu dia?” tanyaku
“ gua pengen dia tau. 3 tahun gua gak pernah liat dia, sejak kecil pun dia selalu sibuk sampai jarang ngeliat gua. Gua Cuma takut, kalau gua mati tanpa ngeliat dia,  gua gak akan mati dengan bahagia.. gua gak ikhlas..”
“ Cuma itu yang bisa bikin loe bahagia, ketemu bapak? Bener Cuma itu aja..”
“ Asal loe tau.. permintaan gua rahasia tadi Cuma itu. Bahagia sebelum mati ketemu bapak..”
Hendra menangis, sepertinya aku tau. Itulah harapan terakhir dalam hidupnya dalam keputus asaan. Malam setelah pembicaraan itu, aku memutuskan untuk mencari ayah melalui saudara-saudara ayah. Entah mengapa aku begitu ingin memenuhi keinginan Hendra. Merasa bahwa naluriku mengatakan hidupnya tak lama lagi, aku tidak ingin merasa bersalah dalam hidupku menyebabkan orang yang telah melindungiku sekaligus adikku tidak bahagia sebelum ia pergi dalam hidupku.
Aku berhasil mencari tau keberadaan ayah walau tanpa kepastian, ia ada di kota Surabaya tepatnya di rumah bibiku yang pernah aku singgah saat lebaran waktu kecil.  Aku pun bercerita kepada Hendra. Ia terlihat senang dengan ideku untuk membawanya bertemu dengan ayah. Tapi kami juga sadar, ibu tidak akan pernah mengizinkan kami pergi, apalagi dengan keadaan Hendra yang seperti saat ini.  Masalah lain, Hendra trauma naik pesawat terbang karena pernah nyaris mengalami kecelakaan sehingga ia tidak akan pernah bisa naik pesawat terbang, bila ia dipaksa naik pesawat terbang dan ketakutan malah akan membuat nyawanya terancam.
“ kita bakal pergi dari rumah ini, berdua aja. Diem-diem tanpa ibu tau.. gua bakal sewa mobil. Kita backpacker dari Jakarta ke Surabaya.. setuju?”
Hendra menyukai ide gilaku. Aku mulai merecanakan semua yang akan kami lakukan, menyewa mobil dari rentainer dan menyiapkan semua uang tabungan yang kumiliki. Kami pergi di malam hari saat ibu tertidur. Sampai saatnya tiba rencana itu kami lakukan, Hendra meninggalkan surat terakhir kepada ibu.
“ ibu aku pergi mencari ayah bersama kakak, terima kasih sudah menjaga dan merawatku sejak kecil., aku harus mencari ayah, karena inilah tugas terakhir dalam hidupku.. andai Tuhan memberikan kesempatan panjang aku untuk bertahan hidup.. aku akan kembali meminta maaf kepada ibu. Selamat tinggal ibu.”
Ibu menemukan surat itu di pagi hari disaat ia hendak memberikan Hendra obat, ibu hanya bisa menangis dan kami sudah melakukan perjalanan mencari ayah, melewati jalanan besar sepanjang pulau jawa.
Mencari kebahagiaan dengan menemukan ayah sebagai hal terakhir dalam hidup adikku, Hendra.
***
Kami menempuh perjalanan jauh dengan mobil, Hendra begitu menikmati perjalanan. Ia membuka jendela mobil dan merasakan angin yang berterbangan di udara. Ia tersenyum dan aku bertanya padanya.
“ emangnya sejak kecil loe sama nyokap bokap gak pernah jalan jalan ya?”
“ sejak kecil, sejak tau gue punya kelainan jantung, hidup gua cuma di rumah dan bolak balik rumah sakit.. gak bisa jalan jauh.. lagian mau kemana? Naik pesawat aja gak boleh..”
“ selama ini.. loe tau gak sih kalau loe tuh punya saudara tiri..”
“enggak.. gak sempat kepikiran..”
“ sama.. gua juga gak nyangka bapak diem-diem ama nyokap loe.. tapi ya akhirnya gua jadi tau.. gua gak sendirian di dunia ini.. punya adik juga. Walau..”
“ walau kenapa?”
“ walau nyebelin pas ngeliat loe.. tapi gua baru sadar.. loe itu adik gua.. “
Hendra tersenyum karena hari sudah larut malam. Kami menginap di sebuah hotel. Disamping hotel kami terdapat tempat diskotik. Lampu diskotik menyala terang sampai kamar hotel kami dilantai 2. Hendra memperhatikan jendela kamar hotel. Lalu bertanya padaku, mengapa tempat itu begitu ramai.
“ itu kan diskotik? Emang loe gak pernah kesana..”
“ belum.. “ katanya.
“ jangan bilang loe mau kesana?”
“ mau.. “ katanya dan aku terkejut.
“ seumur hidup gua, gua gak pernah ke tempat gituan. Gua gak mau mati tanpa pernah ngerasain pergi kesana… anterin gua kesana..”
Mendengar kalimat terakhirnya, aku jadi tak bisa melarangnya. Aku memastikan Hendra sudah minum obat sebelum kesana, Untungnya aku sudah membawa semua obat-obat Hendra sehingga selama perjalanan kondisinya terjaga. Saat masuk ke dalam diskotik, aku sudah terbiasa dengan suasana berisik tapi Hendra tidak begitu. Ia mencoba menikmati, tanpa kami sadari, diskotik itu ternyata menyajikan tarian striptis. Saat aku merasa penari stripis cantik itu menggodaku, aku kesal dan pergi. Aku menarik Hendra yang memperhatikan adegan itu. Hendra bertahan, dengan kesal aku menariknya keluar. Hendra tampak marah padaku, dan mempertanyakan kenapa aku menariknya keluar.
“ loe gak boleh nonton gitu-gituan..!!”
“ gua uda gede.. gak salah kan.. lagian itu akan acara utama diskotik disini..”
“ itu bukan acara.. itu gak bener.. kita balik, tidur. Besok masih mau lanjutin perjalanan..”
“ gak mau.. gua masih mau liat..”
“ loe gila ya..dengerin gua dan balik hotel “ aku menarik tangan Hendra, ia marah tapi tak bisa melawan kehendakku.
Malam itu kami tidur tapi Hendra masih marah dan tidak menjawab beberapa pertanyaanku. Aku terbangun di malam hari. Ia tampak kedinginan dan aku menutupi selimut ke tubuhnya yang kedinginan. Alasanku untuk tidak membiarkan Hendra menonton tarian erotis itu karena aku sadar, ia adalah adikku, walau tidak adil sebab aku pernah menontonnya di luar negeri. Tapi ada perasaan di hatiku untuk tidak membiarkan adikku jatuh ke hal buruk seperti yang aku lakukan dulu.
Saat aku terbangun di pagi hari, Hendra sudah tak ada dikamar. Aku panik dan berpikir ia melarikan diri dariku. Aku berlari menuruni lobby dan menemukan ia sedang berbicara dengan seorang perempuan. Hendra menyapaku dan mengatakan bahwa perempuan bernama Angel ini ingin ikut menumpang dengan mobil kita sampai di luar kota. Tapi dari pakaian dan dandanan yang dipakai Angel, aku ingat dengan wajahnya, ia adalah penari striptis yang menggodaku semalam. Aku menarik tangan hendra dan bicara empat mata dengannya.
“ ngapain loe bawa perempuan kayak gitu ikut perjalanan kita..”
“ dia Cuma mau numpang sampai kita keluar kota sini dan mau pulang katanya. Emang salah?”
“ ya salahlah! Loe liat dia dari ujung kepala sampai kaki, itu cewek gak bener! Gua gak sudi..”
“ kakak jangan asal nuduh gitu, dia baik kok. Sopan.. “
Angel tiba-tiba muncul dihadapan kami, mempertanyakan izin menumpangnya. Hendra menjawab
“ kakakku izinin, nanti setelah kami beres-beres kita berangkat..”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hendra terlalu kecil untuk membedakan mana yang namanya perempuan baik-baik dan tidak. Ia pernah bercerita padaku, bahwa ia tidak pernah dekat dengan perempuan selain dengan ibu. Akhirnya, kami bertiga melakukan perjalanan. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, tapi Hendra dan Angel tampak begitu akrab. Mereka bicara panjang lebar dan membahas apa saja yang tak pernah habis dibahas tentang dunia yang membosankan bagiku.
Kami berhenti di toilet umum. Aku menunggu di mobil karena Hendra ingin buang air kecil. Saat di mobil, aku bicara pada Angel.
“ Maaf Angel, adik gua mungkin masih terlalu lugu untuk terhadap perempuan.. jadi kalau bisa gua minta jangan bahas yang topik dewasa..”
“ oo ok.. adik loe baik,. Cuma loe agak pendiam..”
“ gua diam karena gua tau siapa loe.. “ kataku jutek.
Angel terdiam sepertinya ia paham aku tidak menyukainya bersama kami. Hendra kembali dan kami melakukan perjalanan sambil makan siang. Entah mengapa Angel tiba-tiba memiliki alasan bahwa ia tidak bisa pulang ke rumah karena orang tuanya sedang ada keperluan mendadak. Ia malah meminta Hendra izin untuk ikut sampai ke kota Surabaya untuk menemui sahabatnya.  Aku menarik Hendra untuk bicara dan jauh dari angel. Aku menolak dan Hendra langsung memprotes sikapku,
“ Kak, kenapa sih loe jahat banget sama dia, kalau dia kenapa-kenapa kita tinggalin di kota. Siapa yang mau tanggung jawab..”
“ loe itu lugu atau tolol sih, orang kayak gitu. Banyak cara buat bikin siapapun ikutin mau dia..”
“ maksud kakak apa sih? Emang salah kalau dia ikut kita..”
“ dia itu pelacur, penari striptis di diskotik! Loe gak bisa liat dari pakaian sama muka dia.. mana ada cewek baik-baik pakai baju seksi dan dandan menor gitu!!”
“ kakak keterlaluan…!!”
Hendra pergi meninggalkan aku saat itu juga, ia duduk bersama Angel. Aku merasa kesal dengan apa yang terjadi. Aku takut, Hendra jatuh hati pada keluguan dan  pengaruh Angel. sebelum kami naik ke dalam mobil ia berkata padaku.
“ loe ingin gua bahagia kan? Ini kan tujuan perjalanan kita.! Kalau gitu jangan larang Angel..”
“ terserah apa mau loe.. tapi tanggung sendiri akibatnya dan gua harap loe gak suka sama dia!!”
Hendra tidak menjawab. Sepanjang perjalanan kami terdiam dan Angel berpura-pura tertidur di bangku belakang mobil. Akhirnya malam tiba saat kami tiba di kota persinggahan. Hendra tidur bersamaku dan Angel dengan terpaksa kami sewakan kamar lain. Saat kami tertidur tiba-tiba Angel mengetuk pintu kami. Kami membuka pintu dan ia langsung masuk dengan wajah ketakutan. Terjadi keributan, beberapa orang dengan badan kekar muncul di hotel. Angel panik, aku  dan Hendra bingung dengan kejadian itu.
“ kita harus pergi.. pergi sekarang juga.. soalnya ada orang yang mau cari gue..”
“ itukan urusan loe..  kenapa kita harus ikut2an masalah loe..”
Angel ketakutan, Hendra mendekatinya mencoba menenangkannya. Pintu kami diketuk dengan kencang. Pria-pria kekar yang mencari Angel memaksa masuk.
“ itu mereka tolong gua, dia mau nangkap gua untuk kerja di  diskotik lagi..”
“ kak, kalau loe gak punya hati buat bantuin Angel, biar gua aja yang bantuin dia..”
Pintu terbuka pria-pria itu berhasil masuk dan langsung ingin menangkap Angel. Hendra melindungi dan berkelahi tanpa imbang. Melihat kejadian itu aku mengambil bangku dan melempar ketiga orang itu. Berkelahi dengan apa saja. sampai akhirnya Angel memukul satu diantara yang lain dengan botol kaca hiasan. Yang lain mencoba menolong dan aku mengambil botol lain untuk melempar kedua orang itu sambil mencoba kabur menuju mobil.  Kami berhasil menjalankan mobil meninggalkan mereka.
Angel bercerita dalam perjalanan bahwa ia hanyalah korban dari penipuan yang terjerumus dalam dunia malam sebagai penari striptis. Sejak awal Angel sadar bahwa pria-pria itu akan mencarinya sehingga ia memilih tidak tiba di rumahnya dan mencari alasan untuk ikut dengan kami. Sekarang kami menjadi terlibat dalam masalahnya. Hendra akhirnya tau siapa Angel, tadinya aku pikir ia akan berubah pikiran terhadap Angel dengan perkerjaan yang ia lakukan tapi aku harus mengakui bahwa hati adikku terlalu tulus.
“ apapun perkerjaan yang loe lakukan, setidaknya di hati kecil loe gak pernah mau seperti itu, loe hanya korban.. kita gak seharusnya menghakimi loe bersalah dan buruk.. Cuma Tuhan yang pantes menilai..”
Hendra mungkin benar, akhirnya hati kecil pun merasa iba. Menyadari bahwa kesalahan terbesarku adalah merendahkan perkerjaan Angel dan menganggapnya Hina. Tapi Hendra, ia mengajarkanku untuk lebih menghargai orang lain dengan tulus. Satu hal yang terjadi dari masalah ini adalah, Obat-obat Hendra, hendphone dan uangku tertinggal di Hotel. Ia mulai tampak lemah dan lelah. Tertidur di belakang mobil bersama Angel disampingnya. Wajah kami berantakan dengan luka memar dimana-mana. Malam pun kami lalui sepanjang perjalanan hingga menunggu tiba waktunya kami bisa melewati hari menyeramkan hari ini.
***
Kami tiba di kota selanjutnya. Hendra terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Kami pun berhenti untuk beristirahat berharap pengejar kami tidak mengikuti. Hendra beristirahat di hotel. Aku dan Angel bicara. Kami tidak memiliki uang sama sekali, Angel menawarkan uangnya untuk membayar. Aku menjelaskan kepadanya sebenarnya keadaan Hendra yang membuat Angel terkejut. Ia tidak menyangka Hendra memiliki penyakit separah itu.
“ gua gak tau kapan dia pergi dari hidup gua.. gua cuma mau dia bahagia disaat-saat terakhir hidup dia..”
“ gak seharusnya gua bikin kalian terlibat dalam masalah gua..”
“ kita uda terlajur terlibat. Gua mau cari apotik buat beli obat dulu kalau bolehm gua mau pinjem duit loe dulu.. jagaian dia untuk sementara waktu ya..”
Angel melepaskan kalung emas dan perhiasan yang ia kenakan.
“ pakai ini dan jual aja supaya bisa beli obat..”
Aku berterima kasih pada kebaikan Angel, ia juga bersedia menjaga Hendra saat aku mencari obat di apotik disekitar kota ini. Angel menatap wajah Hendra mengobati perlahan luka memarnya dengan obat merah. Hendra terbangun. Angel menjelaskan kepada Hendra bahwa aku sedang pergi mencari obat.
“ kakak loe sayang banget sama loe.. loe beruntung ya, punya orang yang peduli, gak kayak gua..”
“ kenapa bilang begitu.. bukannya semua orang terlahir dengan kasih sayang..”
“ gua berbeda.. gua emang punya keluarga, tapi keluarga gua malah ikut-ikutan jual gua demi menyambung hidup.. gua disuruh kerja dan gak nyangka kerja gak bener..”
Angel menangis. Hendra memeluknya. Mereka saling bercerita tentang kisah hidup masing-masing termasuk apa yang Hendra lakukan saat ini dan tujuannya untuk bertemu ayah. Aku kembali membawa obat-obat yang bisa membantu meringankan sakit Hendra, mungkin hanya sementara. Hendra ingin melanjutkan perjalanan dengan kodisi yang lemah. Aku tidak bisa menolak apa yang ia inginkan. Kami pun melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sejenak. Keuangan kami mulai menipis, Angel juga sudah tidak punya uang lagi untuk membantu kami.
Setelah aku melihat apa yang terjadi, aku menyadari Angel tidak seburuk yang aku bayangkan. Ia membantuku merawat Hendra yang mulai semakin lemah karena obat yang aku beli tidak membantu sama sekali. Karena malam itu kami lapar. Tanpa sengaja kami berhenti di supermarket yang buka 24 jam. Angel dengan cerdik menawarkan kepada kami apa yang hendak kami makan. Aku bingung, karena kami sudah tidak punya uang lagi untuk membayar makan.
“ perhatiin gua ya dari dalam mobil..” kata Angel.
Ia turun sambil merapikan pakaiannya agar terlihar seksi. Masuk ke dalam supermarket. Dua orang penjaga menyambutnya. Mereka berdua seperti terpanah oleh keseksian Angel. Angel meminta satu orang untuk membawanya mencari pembalut. Satu orang mengantarkannya, saat menemukan pembalut, Angel sengaja menjatuhkan beberapa produk makanan yang dibangun untuk menarik perhatian pengunjung, karena jatuh berantakan dua penjaga itu jadi sibuk merapikan barang-barang itu, angel mengambil kesempatan lengah itu untuk mengambil beberapa makanan dengan cepat dan kembali ke mobil.
Aku dan Hendra hanya termenung saat  melihat Angel kembali dengan makanan di tangannya.
“ kok bengong,. Buruan jalan keburu mereka datang..”
“ gila loe mencuri..?”
“ kagak Cuma ngutang..”
Kami semua tertawa dan dapat makan malam gratis dari apa yang Angel lakukan dengan penuh trik dan keberanian. Malam itu pun kami tiba di Surabaya dan saat itu berada di rumah yang kami pikir ada ayah. Ternyata rumah itu kosong. Tidak ada seorang pun, aku takut Hendra kecewa setelah menempuh perjalanan panjang ini tanpa melihat ayah.
“ bapak ga ada ya?” tanya Hendra padaku saat di mobil karena ia tidak turun.
“ bapak uda pindah.. maaf ya..”
Hendra terdiam, Angel disampingnya ikut prihatin.
“ gapapa kak, sebenarnya gua uda tau, gua gak akan pernah ketemu bapak.. “
“ maksudnya..?”
“ mungkin gua mau ketemu bapak tapi gua sadar kebahagiaan bukan kerena harus ketemu bapak, melewati perjalanan sama kakak dan Angel, itu uda bikin gua tau arti bahagia, kebersamaan dan sesuatu yang mustahil gua lakui dipikiran gua dulu sekarang bisa gua lakukan..”
“ tapi kakak janji kita pasti akan ketemu bapak.. kakak cari tau lagi ya.. “
Hendra hanya tersenyum, kami tidak tau hendak kemana setelah itu. Hendra ingin berhenti di toilet sambil kami mencoba mengisi bensin. Ia mengambil uang reseh tersisa di mobil dan memintanya padaku untuk menelepon ibu memberikan kabar, sebab hendphoneku tertinggal saat peristiwa di hotel. Memang itu yang aku harapkan agar ibu tiriku tidak khawatir karena kami baik-baik saja. setelah menelepon, Hendra pun pergi ke toilet. Aku dan Angel menunggu, tapi ia tidak muncul-muncul dan saat kami mengecek ke toilet. Aku mendobrak pintu dan menemukan Hendra kembali pingsan. Kami panik dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Hendra langsung dirawat dalam ruangan UGD. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi dan biayanya sangat mahal. Kami bingung, aku pun berpikir menggadaikan mobil untuk meminjam uang di sekitar kota ini. aku menyuruh Angel menjaga Hendra dan berkeliling kota mendapatkan sedikit uang dari penggadaian mobil. Walau mobil ini sewaaan tapi aku berhasil mendapatkan orang yang bersedia memberikan uang. Saat kembali, pihak rumah sakit menerima uang itu dan menjalankan operasi tapi tetap kekurangan uang. Aku bingung, Angel mendekat padaku.
“ kurang berapa Chan?”
“ 2 juta lagi.. kalau ga ada uangnya malam ini, abis operasi Hendra disuruh pulang.. “
“ kalau begitu gua coba cari pinjaman disini.. tunggu ya?”
“ emang loe bisa dapat mala mini juga..”
“ doain aja..”
Angel meminta izin untuk pergi sesaat dan berjanji untuk kembali, aku tidak bisa berpikir apa-apa selain bagaimana menyelamatkan Hendra. Angel tidak memiliki pilihan apapun karena ia tidak punya siapa-siapa di kota ini, ia hanya punya dirinya untuk membantu biaya pengobatan Hendra. Operasi berjalan tidak begitu baik, dokter tidak berbuat apa-apa dengan kondisi Hendra yang sudah terlalu parah. Beberapa jam kemudian, Angel kembali saat aku sedang menjaga Hendra yang tak sadarkan diri.
“ gue ada uang, bisa dipakai buat bantu Hendra tadi biaya rumah sakit uda gua lunasin..”
“ darimana loe dapat uang ini..” kataku.
“ loe gak perlu tau.. tapi setelah ini, gua mau pamit.. gua ada urusan. Titip salam gua buat Hendra kalau dia bangun..”
“ mau kemana? Kan loe bilang loe gak mau kembali ke keluarga..”
“ kemana pun gua pergi, gua sama kayak Hendra, uda ngerasain bahagia… dan loe gak perlu tau gua kemana..  Yang pasti kalian ini orang-orang berharga dalam hidup gua walau perjalanan kita singkat.“
Hendra terbangun. Ia sudah tak kuat lagi bicara. Nafasnya terhenga-henga. Aku mendekatinya.
“ Kak.. gua mau minta tolong..”
“ tolong apa Dra.. ngomong aja..”
“ jagaian ibu ya kalau gua kenapa-kenapa.. titip maaf gua.. “ katanya dan aku menangis saat itu, merasa bahwa itulah pesan terakhirnya untukku.
Angel mendekat merangkul tangan Hendra. Hendra mencoba tersenyum padanya. Walau itu berat.
“ Dra.. loe harus kuat.. jangan menyerah.. loe pasti bisa sembuh..”
“ Angel.. “ Hendra lalu menarik tanganku dan memberikan kepada tangan Angel.
“ kalian cocok.. harus selalu bersama. Janji??” kata Hendra dan aku melirik Angel.
Aku tidak tau apa yang terjadi karena Hendra tiba-tiba menjodohkan aku dengan Angel. aku terdiam dan Hendra sekali lagi memintaku untuk berjanji.
“ ia kakak janji.. akan selalu bersama sama Angel..”
Aku pun mengatakan janjiku untuk selalu bersama Angel. Angel pun menangis dan mengatakan hal yang sama. Hendra tersenyum lalu memejamkan mata setelah itu untuk selamanya. Ia meninggal dengan kebahagiaan. saat aku mengurus surat-surat kematian Hendra. Polisi datang, menangkap Angel dengan tuduhan melakukan pencurian di supermarket karena wajahnya tertangkap di cctv. Ternyata ia mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit Hendra dengan melakukan pencurian di supermarket setelah ia melakukan hal yang sama saat bersama kami. Tapi aku tidak bisa marah karena itu, ia melakukan itu untuk membantu Hendra.
Aku sudah berjanji untuk bersama Angel. Aku akan menunggu sampai ia keluar dari kasus hukum yang menimpanya. Hendra dimakamkan, dengan izin kepolisian Angel ikut hadir dalam pemakaman. Setelah melewati semuanya aku berpikir untuk menikah dengan Angel. Kepergian Hendra membuatku mengerti arti kebahagiaan, walau aku harus bersedih kehilangannya. Mencintai tidak harus melihat bagaimana dan dari mana orang yang kita cintai berasal, selama ia telah menjadi orang yang baik dan mencintai kita, seharusnya kita melakukan hal yang sama.
Ayahku tidak pernah lagi muncul bahkan saat pemakaman Hendra, aku sudah tidak terlalu peduli. Aku mendengar ia sudah berkeluarga lagi dan baru muncul dengan keluarga barunya saat ia hanya bisa menyesal mengetahui adikku meninggal.  Ayah memang sudah bangkrut dan hidup apa adanya dengan sederhana, tidak seperti dulu yang mampu memberikan nafkah padaku. Aku telah menjadi dewasa dan Tugasku adalah menjaga ibu tiri yang sudah kuanggap ibuku sendiri dan melanjutkan hidup menjadi orang baik dan lebih baik dari apapun melalui sejarah perjalanan yang aku lalui.
Tidak ada kehidupan sempurna tanpa kehilangan seperti tidak ada kehilangan yang dapat membuat kehidupan sempurna.
Tamat
 karya : Agnes davonar 
»»  READMORE...
 

My profil

Mempelajari Kehidupan

aku memang bukanlah manusia sempurna, namun aku tetaplah aku tak hanya kan berubah untuk pemperbaiki kehidupanku,. baca terus ya posttingan dari Raras

My Blogs

Followers

Best View: Mozilla Firefox. Template is proudly powered by Blogger.com | Template by Amatullah. Syukur |